SELAMAT DATANG DI BLOG GUGUS SD PEMENANG TIMUR - LOMBOK UTARA

Sabtu, 09 April 2011

Tes Cakep Yang Tidak Cakep

        Pada hari Senin tanggal 4 April 2011 bertempat di Gedung Serbaguna Gangga telah diadakan tes kompetensi bagi Calon Kepala Sekolah (Cakep). Tes ini sebagai jawaban dari banyak harapan yang berkembang setelah dilantiknya Kepala Sekolah pada lembaran baru  tahun ini tanpa melalui proses seleksi. Bahkan Pengurus PGRI Kabupaten Lombok Utara secara langsung menghadap Bupati dan Kepala Dinas Dikbudpora, berharap ke depan promosi Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah diawali dengan rangkaian proses seleksi demi mendapatkan calon pemimpin yang berkompeten, sehingga diharapkan dapat memajukan dunia pendidikan di Lombok Utara.

        Apakah kemudian tes yang dilaksanakan tanggal 4 April lalu telah memenuhi harapan? Dari serapan yang bersumber dari kalangan dunia persilatan yang rata-rata sudah memiliki sabuk hitam (baca: Kepala Sekolah) ternyata tes cakep yang dilaksanakan tersebut kurang cakep. Pasalnya, tes cakep masih terkesan setengah-setengah dan dipaksakan. Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah seharusnya melandasi dilaksanakannya tes cakep ini. Pemanggilan guru-guru yang akan mengikuti tes dilakukan secara mendadak dan tertutup, bahkan Kepala Sekolah sebagai atasannya langsung tidak tahu bila gurunya dipanggil untuk mengikuti Tes Cakep. Tidak terlibatnya Kepala Sekolah dalam proses penunjukkan calon sungguh sangat disayangkan. Padahal Kepala Sekolah memiliki portofolio yang lebih lengkap mengenai kenerja guru-gurunya dibandingkan pihak-pihak lain, sebab dalam kesehariannya guru dan kepala sekolah melaksanakan kewajibannya sebagai pendidik dalam satu teamwork. Ternyata di beberapa sekolah terdapat kasus, di mana guru yang diberi kesempatan mengikuti tes adalah guru dengan kinerja kurang bagus, padahal masih ada guru lan dengan kinerja yang jauh lebih baik. Rekan-rekan seprofesinya heran, apalagi Kepseknya lebih heran lagi. Untungnya, guru KLU sudah terbiasa dengan kejutan-kejutan, sehingga tidak sampai pingsan dan memerlukan napas bantuan. Sabar...sabar...sabar....
        Kenyataan tersebut juga telah berimplikasi pada suasana kerja di sekolah menjadi tidak kondusif.  Sampai-sampai ada guru yang berpendapat: "...untuk meningkatkan karir, guru tidak perlu rajin. Toh, guru malas tidak ditegur bahkan bisa memperoleh jabatan."  Masyaallah, semoga guru-guru masih diberi kesadaran. Apalagi bila kemudian guru dengan kinerja yang belum layak menjadi tauladan tersebut, benar-benar diangkat menjadi kepala sekolah, maka bisa dibayangkan " kepala sekolah kencing berdiri, guru kencing berlari."  Khan, tidak lucu? Terus anak-anak didik bagaimana?


Bila sudah demikian kita hanya bisa menyanyi untuk menghibur hati, seperti lagunya Band Armada:
MAU DIBA...WA KEMANA... PENDIDIKAN KITA ....
Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Ho ...ho...ho...ho....

Gadal person

1 komentar:

Anonim mengatakan...

prestasi memang merupakan sebuah kata keramat yang paling sulit dilaksanakan dari hulu hingga ke hilir.... tetapi begitu sebuah prestasi teraih dengan tetes keringat dan pengorbanan. eh ternyata prestasi hanyalah sebuah kata basi yang tiada makna. bahkan cenbrung dimarginalkan karena tiadanya IP ( Ilmu Pendekatan ). untuk saudara saudaraku.. marilah kita bekerja deengan sungguh sungguh tetapi harus disesuaikan si dengan apa yang akan kita dapat... selamat mencoba